China Optimis Siap Pasarkan Injeksi AIDS

China optimis bahwa pada bulan Agustus ini mereka dapat menyediakan suntikan jangka panjang guna mengobati puluhan ribu warganya yang terinfeksi HIV. Obat yang bernama Albuvirtide tersebut baru saja disetujui oleh otoritas setempat melalui laman resminya. Obat yang dikembangkan oleh pusat penelitian bioteknologi di Nanjing itu dapat diberikan tiap minggu untuk mencegah fusi virus dengan selaput sel induk sehingga mengganggu siklus hidup HIV di tahap awal.


Menurut perusahaannya, kelebihan dari obat ini adalah meningkatkan kesadaran pasien, meningkatkan kualitas hidup serta menekan biaya pengobatan bagi pasien HIV. Situs kesehatan resmi pemerintah China memuat obat ini menawarkan sebuah terobosan dalam pengobatan HIV di China. Keberadaan Albuvirtide ini sekaligus memperbaiki situasi pengobatan yang buntu bagi perawatan pasien HIV AIDS. Obat ini juga menawarkan alternatif untuk pasien yang telah kebal terhadap obat-obatan yang sudah ada saat ini.


Di China, pengobatan pasien HIV selama ini masih mengandalkan obat generik ataupun impor dimana tiap pasien HIV / AIDS wajib menenggak sejumlah pil setiap harinya. Albuvirtide juga memiliki efek samping yang cenderung lebih sedikit dibanding obat yang selama ini digunakan, utamanya bagi organ hati. Selama ini diketahui bahwa hati merupakan salah satu organ tubuh yang perlu diperhatikan saat mengikuti terapi pengobatan. Obat tersebut juga telah diuji klinis secara intensif selama 10 tahun dengan ratusan pasien. Dengan pengujian yang dirasa sudah cukup komprehensif dan tingkat kebutuhan yang semakin mendesak, wajar jika pemerintah China meloloskan obat ini ke pasar bulan depan.


Komisi Kesehatan China pada tahun 2017 mencatat setidaknya 57.194 pengidap HIV AIDS baru, dimana ada 15.251 orang dilaporkan meninggal lantaran penyakit itu. Dengan demikian, wajar jika China memberikan perhatian khusus terhadap kondisi ini. Tingkatan ini terbilang oleh sudah mengkhawatirkan dan membutuhkan penanganan yang lebih serius. Selain halnya melakukan pengobatan, sejumlah tindakan pencegaha juga turut diupayakan oleh pemerintah China.


Pada tahun 2017 lalu, anggota dewan di China membuat sebuah gerakan upaya pencegahan serta pengobatan untuk HIV AIDS dalam negeri. Gerakan ini memiliki tujuan untuk mendiagnosa 90 persen pasien HIV AIDS di tahun 2020 sekaligus memastikan bahwa jumlah pasien yang telah didiagnosa tersebut berhasil diobati. Salah seorang ahli HIV AIDS di China menyatakan bahwa pelulusan obat ini lebih dikarenakan efektifitas dan tingkatan kebutuhan yang semakin mendesak. Terlepas dari apakah obat-obatan tersebut diimpor ataupun obat buatan dalam negeri, ada banyak pasien yang harus diperhatikan kebutuhannya.


Namun demikian, pusat penelitian China tersebut tetap akan mengikuti tren perkembangan pengobatan HIV AIDS dunia. Mereka juga tetap mengacu pada penelitian internasional dalam pengembangan obat-obatan dalam negeri tersebut. Kita pun boleh berharap akan kesuksesan China dengan obat ini dan dapat menyebarluaskan pengobatan alternatif dengan terapi yang lebih bersahabat.

Leave a Reply